ARTICLE AD BOX

Tsunami informasi seperti saat ini memberi banyak pembelajaran bagi pengguna media sosial. Dibanding mengejar berita yang cepat, berita yang akurat mencegah konsumen media mengalami sesat informasi. Karena saat ini, media sosial membuat penggunanya berlomba-lomba menjadi 'yang lebih dulu viral'.
“Saat ini semua warga dipaksa untuk melek digital, bahkan untuk warga lanjut usia. Ada sanggar di Jogja yang mewadahi nenek-nenek tersebut untuk sekedar bernyanyi dan joget kemudian diunggah di media sosial, ingin terkenal dan viral,” ujar pakar ilmu Komunikasi Dr. Dra Zulaika saat menjelaskan pengalaman risetnya.
Selain itu, Zulaika, sapaan akrabnya juga melihat perkembangan dunia digital menjadi problematika juga dalam memahami sebuah informasi. Beliau berharap adanya pencarian sebuah informasi atau berita dari media-media yang tervalidasi atau pakar yang kredibel dalam bidangnya.
“Literasi digital belum sepenuhnya dipahami secara mendalam oleh warga, akhirnya mereka tenggelam dalam berita atau informasi yang sepenggal, seperti berita Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani yang menyebutkan “Guru adalah Beban Negara” ternyata itu Hoax menggunakan aplikasi deepfake. Pemahaman sepenggal ini yang akhirnya menggiring opini ke publik dengan narasi-narasi mereka yang dapat memancing keriuhan di sosial media,” imbuhnya.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr Soetomo Surabaya, Dr Harliantara mengatakan bahwa informasi saat ini tid...