Viral Kasus Raya, Banyak Gen Z Borong Obat Cacing untuk Dikonsumsi, Amankah?

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
 Istimewa Ilustrasi cacing gelang. Foto: Istimewa

Belakangan ramai di media sosial soal generasi Z (Gen Z) memborong obat cacing untuk dikonsumsi. Hal ini menyusul kasus balita di Sukabumi, Raya, yang mengalami cacingan kemudian meninggal dunia akibat infeksi.

Menanggapi fenomena tersebut, dokter spesialis anak sekaligus pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, dr. Gina Noor Djalilah mengingatkan bahwa penggunaan obat cacing tidak bisa sembarangan.

Penggunaan obat cacing yang benar di Indonesia umumnya mengikuti panduan dari Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

"Pemberian obat cacing dapat diulang setiap 6 bulan sekali. Sedangkan untuk daerah non endemis, pemberian obat cacing harus diberikan sesuai indikasi dan sesuai pemeriksaan dokter dengan hasil pemeriksaan tinja positif ditemukan telur cacing atau cacing," kata Gina, dalam keterangannya seperti dikutip Basra, Jumat (29/8).

Menurutnya, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023, hasil survei di 40 desa pada 10 provinsi menunjukkan prevalensi infeksi cacing berkisar antara 2,2% hingga 96,3%. Angka ini paling banyak ditemukan pada anak usia sekolah 5-14 tahun.

"Indonesia dengan iklim tropis memiliki angka cacingan tinggi sebesar 28%, dipengaruhi oleh kebersihan, sanitasi, kepadatan penduduk, serta tanah yang lembab," jelas Gina.

Ia melanjutkan, fenomena berburu obat cacing ini bisa jadi dipicu oleh kekhawatiran yang dipicu pemberitaan yang beredar mengenai kasus cacingan di Sukabumi. Tak sedikit yang lantas mengkonsumsi obat cacing secara mandiri tanpa indikasi medis.

Padahal, menurut Gina, infeksi cacing itu tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas.

"Infeksi cacing ringan sering kali tidak menunjukkan gejala yang khas, melainkan hanya berupa kelelahan,...

Baca Selengkapnya