Wabah Virus Chikungunya Merebak di China, Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

3 minggu yang lalu 13
ARTICLE AD BOX
 AUUSanAKUL/ShutterstockIlustrasi nyamuk DBD pada kulit manusia. Foto: AUUSanAKUL/Shutterstock

Kasus infeksi virus chikungunya dilaporkan mengalami lonjakan di China dalam beberapa hari terakhir. Ini membuat otoritas kesehatan di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, mulai waspada dan memperketat aturan perjalanan ke dan dari China.

Meski virus ini pertama kali diidentifikasi sejak 1950-an, kasusnya kini semakin sering terjadi. CDC tengah mempertimbangkan untuk mengeluarkan peringatan perjalanan ke China menyusul wabah chikungunya yang terjadi di Provinsi Guangdong. Begitu pun Indonesia, sejauh ini belum ada aturan yang dikeluarkan oleh Kemenkes dalam menanggapi masalah ini.

Dilansir South China Morning Post, kota Foshan menjadi sorotan karena sudah mencatat lebih dari 5.000 kasus di sana. Akibatnya, status darurat kesehatan masyarakat di wilayah itu dinaikkan menjadi level III dari total empat level di sistem kesehatan China, dengan level I sebagai kondisi darurat tertinggi.

Meski mayoritas kasus bersifat ringan, jumlah kasus yang besar sudah cukup untuk memicu kekhawatiran otoritas kesehatan global. Sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan para peneliti di China memprediksi bahwa wilayah risiko tinggi chikungunya akan bergerak ke arah utara, dipicu oleh perubahan iklim. Artinya, bukan tak mungkin provinsi-provinsi lain di luar Guangdong akan terdampak di masa mendatang.

Sampai saat ini, China belum masuk dalam daftar negara dengan risiko tinggi atau wabah aktif versi CDC. Namun perkembangan situasi bisa berubah cepat dan perlu dipantau secara berkala.

Baca Selengkapnya